Kata mereka: “Mari kita mendirikan kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, supaya kita termasyhur dan tidak tercerai berai di seluruh bumi.” (Kejadian 11:4)

Refleksi:

Menara yang mereka bangun kemungkinan besar adalah sebuah ziggurat, bangunan yang umum di Babylonia pada masa itu. Ziggurat dibangun untuk tempat berdoa, dan terlihat seperti piramid dengan tangga2 atau jalan menanjak di sampingnya. Ziggurat bisa berdiri mencapai 300 kaki dan biasanya juga lebarnya sama dengan itu, jadi biasanya bangunan ini menjadi tempat yang menonjol di tengah kota. Dalam cerita ini orang2 tersebut membangun menara sebagai monumen bagi kebanggaan mereka sendiri, yang ingin dipamerkan ke seluruh dunia.

Pada waktu itu mereka bersatu, tapi persatuan mereka adalah untuk melakukan sesuatu yang mendukakan Allah. Perhatikan apa kata mereka: “supaya kita termasyhur”. Menara Babel adalah keberhasilan manusia yang hebat, tapi monumen itu diperuntukkan bagi manusia dan bukan untuk memuliakan Tuhan.  Persatuan bisa menjadi tujuan yang baik, kalau kita melakukan sesuatu yang benar bersama2. Lingkungan kita atau masyarakat sekitar kita bisa menekan kita supaya ikut arus, tapi kita harus memiliki keberanian dan ketetapan hati untuk memisahkan diri dari mereka.

Mungkin kita juga membangun ‘menara’ agar kita diperhatikan orang dan orang melihat keberhasilan kita: baju mahal, rumah besar, mobil bagus, pekerjaan penting, pelayanan menonjol. Semua hal ini tidak ada salahnya, tapi kalau kita pergunakan itu semua untuk mendapatkan identitas diri atau harga diri, semua itu jadi merampas tempat yang seharusnya menjadi milik Allah.  Kita diberi kebebasan untuk berkembang dalam segala bidang, tapi kita tidak dibenarkan untuk menggantikan tempat Tuhan dalam hidup kita.

Tanyakan pada Tuhan agar Dia menunjukkan pada kita “menara” yang telah kita bangun dalam hidup kita. Dan minta kekuatan dari Nya untuk dapat melawan arus, agar melakukan apa yang benar.

Sumber:

Alkitab Hidup Berkelimpahan