Inilah sejarah singkat Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) di Indonesia.

Sejarah pelayanan GSJA di Indonesia dimulai dengan hadirnya 3 keluarga Misionaris Amerika yang menjadi pioneer pelayanan GSJA di Indonesia: keluarga Kenneth dan Gladys Short, keluarga Ralph Mitchell dan Edna Lucy Devin serta keluarga Raymond dan Beryl Busby. Mengikuti panggilan Allah dalam kehidupan masing-masing, secara terpisah dan tidak saling mengenal, mereka memulai pelayanannya dengan pergi ke Hindia Belanda demi memberitakan Injil Yesus Kristus.

Kenneth Short mula-mula terpanggil untuk melayani di Borneo (Kalimatan). Pada tahun 1936 ia tiba di Banjarmasin, salah satu kota besar di pulau tersebut. Ia memberitakan Injil di sebuah kawasan di tepi Sungai Kahayan yang dikenal dengan nama Pulau Pisang. Di sinilah ia mendapatkan buah sulung pelayanannya ketika terjadi mujizat Tuhan yang menyembuhkan seorang yang buta. Kakak dari orang buta yang disembuhkan tersebut, bernama Saridjan, merupakan penduduk asli daerah Sungai Kahayan pertama yang percaya kepada Kristus. Berikutnya adalah keluarganya dan beberapa orang lainnya. Ketika pecah PD II, demi alasan keamanan, Kenneth Short membawa keluarganya kembali ke Amerika Serikat.

Tahun 1934 Ralph Mitchell Devin bertobat setelah mendengar khotbah C.M. Ward di Bethel Temple, Seattle. Empat tahun kemudian, ia memutuskan untuk menjual bisnis furniture-nya di kota Seattle dan pergi ke Hindia Belanda sebagai misionaris swadana. Keluarga Devin melakukan pelayanan mereka di daerah Maluku. Segera sesudah tiba di Maluku, keluarga Devin mendirikan semacam kantor pusat kegiatan penginjilan di Ambon. Pada awalnya mereka bekerjasama dengan Job Silloy, seorang gembala dari De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie, namun hanya bertahan enam bulan lamanya karena ada perbedaan doktrin. Setelah berpisah dari Job Silloy, Ralph Devin memutuskan untuk mendirikan Bethel Indies Mission pada bulan September 1938. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 April 1940, organisasi ini mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda. Devin menjadi Ketua dan Raymond Busby menjadi Wakil Ketua. Tahun 1939, keluarga Devin mengundang John Sung, seorang penginjil Karismatik dari daratan Tiongkok untuk datang memberitakan Injil dalam KKR di Ambon. Banyak orang bertobat dan mereka menjadi cikal bakal jemaat awal GSJA di Maluku. Saat pecahnya Perang Pasifik, aktivitas penginjilan keluarga Devin terpaksa dihentikan dan pada bulan Januari 1942 Devin membawa keluarganya keluar dari Hindia Belanda untuk kembali ke Amerika Serikat.

Keluarga Busby tiba di Medan pada tahun 1939. Karena kedekatan hubungan, pada mulanya mereka melayani di bawah payung Bethel Temple Mission. Tetapi kemudian Busby memutuskan untuk bergabung dengan Bethel Indies Mission. Busby merintis dan mengembangkan gereja di Sumatera. Ia juga sempat beberapa kali mengunjungi dan melayani sebuah jemaat Gereja Pentakosta di jalan Pecenongan 54 yang digembalakan sahabatnya, Misionaris dari Bethel Temple Seattle, Richard van Klaveren. Di awal Perang Pasifik, Busby dan keluarganya kembali ke Amerika Serikat.

Saat PD II berkecamuk dengan dahsyatnya, Ralph Mitchell Devin dan Raymond Arthur Busby menggabungkan diri sebagai bagian pelayan Injil di Northwest District Council of the American Assembly of God dan diminta untuk melayani di Seattle. Ralph Devin menjadi gembala di White Center Assembly of God sedangkan Raymond Busby menjadi gembala sidang West Assembly of God selain mengajar paruh waktu di Northwest Bible Institute. Sebelumnya pada tahun 1935 Kenneth Short menjadi Pendeta Assembly of God. Ia juga pernah menjadi gembala di Buckley, Washington sebelum diminta oleh kantor pusat AoG untuk menangani penerbitan majalah Misionaris.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. Belanda tidak mau begitu saja kehilangan jajahannya. Terjadilah Perang Revolusi (1945 – 1950). Justru di saat-saat inilah tiga keluarga perintis GSJA tersebut kembali ke Indonesia. Mereka tidak lagi berangkat sebagai Misionaris Swadana melainkan menjadi Misionaris yang resmi diutus oleh Division of Foreign Mission of American Assembly of God. Dari tahun 1946 – 1951 Bethel Indies Mission adalah nama resmi dari GSJA. Dalam Kongres I di Jakarta tanggal 1-5 Januari 1951, namanya resmi diubah menjadi the Assembly of God in Indonesia (GSSJA di Indonesia). Tahun 1946 keluarga Busby kembali ke Jakarta. Ia diminta untuk menggembalakan Gereja Pentakosta di jalan Pecenongan 54 dengan dua alasan: sebelumnya pernah beberapa kali berkhotbah di sana dan karena gembala sebelumnya, Richard van Klaveren, meninggal dunia. Pada mulanya terjadi masalah karena Busby tidak lagi bernaung di bawah Bethel Temple melainkan di bawah payung Bethel Indies Mission sedangkan gereja tersebut terkait dengan Bethel Temple – Pinkster Gemeente. Masalah ini terselesaikan ketika akhirnya jemaat setempat setuju untuk menggabungkan diri dalam wadah Bethel Indies Mission.

Pada bulan Desember 1951, Jetro Bunjamin dipilih untuk menggembalakan GSJA di jalan Pecenongan 54 menggantikan Raymond Busby. Di bawah kepemimpinannya, gereja itu bertumbuh dengan baik dan membuka banyak perintisan sebagai cikal bakal GSJA di Jakarta dan Jawa Barat. Sebagai daerah pusat pemerintahan dan bisnis Indonesia dan sebagai akibat pertumbuhan GSSJA di Jakarta dan Jawa Barat, maka pada tahun 1971 dibentuklah Badan Pengurus Daerah GSJA DKI – Jabar sebagai cikal bakal BPD GSJA DKI Jaya.